Sunday, May 22, 2016

My Travel Map


Traveling adalah salah satu kebutuhan hidup, karena dengan traveling kita dapat membantu mengurangi stress akibat aktivitas rutin sehari - hari. Menurut saya traveling itu tidak harus pergi ke tempat yang jauh dari tempat tinggal kita, tapi traveling adalah ketika kita pergi ke tempat yang sudah atau belum pernah kita kunjungi namun tempat tersebut dapat membawa kesan yang menarik karena panoramanya.  
Bagi banyak orang tidak puas rasanya jika traveling tidak diabadikan, moment itu biasa diabadikan dengan foto. Semakin pesatnya penggunaan media sosia seperti instagram, membuat sebagian orang berlomba - lomba untuk menggunggah foto yang bagus. Yang kemudian terjadi adalah orang melakukan traveling hanya ingin untuk mendapatkan foto dengan latar yang menarik saja.
Intagram adalah alternatif untuk menceritakan kepada orang lain dengan foto kemana saja kita telah melakukan perjalanan. Tidak hanya foto, di Instagram juga dapat melakukan tag lokasi dimana foto itu diambil, namun kadang tidak akurat. Dan juga biasanya pengguna instagram tidak lupa menuliskan caption ketika mengunggah fotonya. Tapi saya mencoba cara lain untuk menceritakan kepada orang lain telah kemana saja saya traveling, yaitu dengan peta perjalanan yang sudah lengkap dengan foto. Dengan peta perjalanan ini kita dapat melihat sebaran traveling, karena  backgrounnya sebuah peta. This is my travel map, hope you enjoy it àMy Travel Map 

Monday, April 18, 2016

GEODESI : Proyeksi Polyeder

Proyeksi Polyeder adalah proyeksi kerucut normal, tangent, konform. Pada proyeksi ini, setiap bagian derajat dibatasai oleh dua garis paralel dan dua garis meridian yang masing-masing berjarak 20′, dimaksudkan untuk menghindari distorsi yang lebih besar. Diantara kedua paralel tersebut terdapat garis paralel rata-rata yang disebut sebagai paralel standar dan garis meridian rata-rata yang disebut meridian standar.

Wilayah Indonesia dibagi menjadi 139 x 51 bagian derajat. Bidang kerucut menyinggung garis pararel tengah (merupakan pararel standart, k = 1). Meridian akan tergambar sebagai garis – garis lurus yang konvergen ke arah kutub, jadi untuk daerah sebelah selatan ekuator ke arah kutub selatan dan untuk daerah utara ekuator ke arah kutub utara. Dan pararel – paralelnya tergambar sebagai lingkaran yang konsentris.
Setiap bagian derajat proyeksi Polyeder diberi nomor dengan dua digit angka. Digit pertama yang menggunakan angka romawi menunjukan letak garis parallel standar  (φo) sedangkan digit kedua yang menggunakan angka arab menunjukan garis meridian standarnya(λo). Proyeksi Polyeder beracuan pada Ellipsoida Bessel 1841 dan meridian nol Jakarta  (λ Jakarta =106°48′ 27′′,79 BT).
Untuk wilayah Indonesia penomoran bagian derajatnya adalah :
Paralel standar : dimulai dari I (ϕ 0 = 6°50′ LU) sampai LI (ϕ 0 =10°50′ LU), yang dibagi sama tiap 20o atau menjadi 139 bagian.
Meridian standar : dimulai dari 1 (λ 0 =11°50′ BT) sampai 96 (λ 0 =19°50′ BT). yang dibagi tiap 20o atau menjadi 51 bagian. Penomoran dari barat ke timur: 1, 2, 3,..., 139, dan penomoran dari LU ke LS: I, II, III, ..., LI.
Cara menghitung pojok lembar peta proyeksi polyeder setiap bagian derajat mempunyai sistem koordinat masing - masing. Sumbu X berimpit dengan meridian tengah dan sumbu Y tegaklurus sumbu X di titik tengah bagian derajatnya. Sehingga titik tengah setiap bagian derajat mempunyai koordinat O.
Koordinat titik - titik lain seperti titik triangulasi dan titik pojok lembar peta dihitung dari titik pusat bagian derajat masing - masing bagian derajat. Koordinat titik - titik sudut (titik pojok) geografis lembar peta dihitung berdasarkan skala peta, misal 1 : 100.000, 1 : 50.000, 1 : 25.000 dan 1 : 5.000.
Pada skala 1 : 50.000, satu bagian derajat proyeksi polyeder (20o x 20o) tergambar dalam 4 lembar peta dengan penomoran lembar A, B, C dan D. Sumbu Y adalah meridian tengah dan sumbu X adalah garis tegak lurus sumbu Y yang melalui perpotongan meridian tengah dan paralel tengah. Setiap lembar peta mempunyai sistem sumbu koordinat yang melalui titik tengah lembar dan sejajar sumbu (X,Y) dari sistem koordinat bagian derajat.




Gambar satu bagian derajat yang terdiri dari empat lembar
Penomoran lembar peta Indonesia skala 1 : 100.000 terdiri atas 139 x 51 lembar peta. Misal, nomor lembar peta yang terletak pada kolom 138 baris ke 51, maka nomor lembar petanya adalah 138/LI.
Hubungan antar lembar peta, skala peta, dan nomor lembar peta untuk 1 lembar bagian derajat (1 LBD) dapat dilihat dalam daftar berikut :
No
Skala
Ukuran
Jumlah Lembar
No. Lembar Peta
1.
1 : 100.000
20 ‘ x 20’
1
138/LI
2.
1: 50.000
10’ x 10’
4
138/LI-D
3.
1: 25.000
5’ x 5’
16
138/LI-e
4.
1: 5.000
2’ x 2’
100
138/LI-92

Konvergensi meridian :



RUMUS TRANSFORMASI GEODETIK KE KOORDINAT PETA POLIEDER
A.       LINTANG UTARA
X = [A] ∆λ – [C] ∆λ . ∆φ
Y = [B] ∆φ + [D] ∆λ2 + [1][D] ∆φ2 + [2] ∆φ3

B.     LINTANG SELATAN
X = [A] ∆λ – [C] ∆λ . ∆φ
Y = - [B] ∆φ - [D] ∆λ2 - [1][D] ∆φ- [2] ∆φ3


Dalam hal ini :
A = N0 cos φ0 sin 1”
B = M0 sin 1”
C = M0 sin φ0 sin2 1”
D = {N0 sin 2φ0 sin2 1”}/4
[1] = 3e2 ( 1 - e2)
[2] = {a ( 1 + e2 - 2 e4) sin3 1” } / 6
Untuk perhitungan bujur (λ), disebelah timur Jakarta diberi tanda positif (+) dan di sebelah barat Jakarta diberi tanda negative (-).
RUMUS TRANSFORMASI KOORDINAT PETA POLIEDER KE KOORDINAT GEODETIK
A.    LINTANG UTARA
∆φ = + (B1) Y – (D1) X2
∆λ = (A1) X + (C1) XY

B.     LINTANG SELATAN
∆φ = - (B1) Y – (D1) X2
∆λ = (A1) X - (C1) XY
C.    Koordinat geodetic :
φ = φo + ∆φ
λ = λo + ∆ λ

Dalam hal ini :
A1 = ρ” / (N0 cos φ0)
B1 = ρ” / M0
C1 = (ρ” tan φ) / (N02 cos φ0)
D1 = (ρ” tan φ) / (2N0 M0)



Keuntungan:
Untuk daerah yang terletaak dalam satu bagian derajat (20′ x 20′) perubahan jarak dan sudut praktis tidak ada, sehingga proyeksi seperti ini baik untuk peta-peta teknis berskala besar dan peta-peta topografi.
Kerugian:

  1. Jika daerah yang dipetakan lebih luas dari 20′ x 20′, maka harus selalu pindah bagian derajat atau pindah stelsel koordinat yang memerlukan hitungan.
  2. Grid dinyatakan dalam kilometer fiktif sehingga kurang praktis. Untuk tiap pulau besar ada stelsel penomeran grid tersendiri, hal ini akan membingungkan.
  3. Kurang praktis untuk penggambaran peta-peta skala 1:250.000 atau yang lebih kecil lagi, karena akan terdiri dari banyak bagian derajat.
  4. Kondisi konvergensi meridian yang belum diperhitungkan dapat menyebabkan kesalahan arah maksimum 15 untuk jarak 15 km.

Friday, March 4, 2016

GEODESI : Datum dan Proyeksi Peta


Proyeksi peta adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara – antara besaran – besaran di atas permukaan bumi (bidang lengkung) dengan besaran – besaran di atas peta (bidang datar) untuk meredusir distorsi menjadi minimum dengan menggunakan matematis tertentu.  Sebelum melakukan proyeksi peta, terlebih dahulu harus dibuat atau diasumsikan sebuah model bagi bumi. Hal ini dilakukan karena bumi tidak berbentuk bulat sempurna, melainkan berbentuk seperti telur yang tertidur (ellipsoid) dengan permukaan yang tidak rata. Untuk keperluan proyeksi peta, dibuatlah sebuah model bentuk bumi. Model ini disebut Ellipsoid Referensi. Ellipsoid Referensi digunakan untuk menentukan Datum, yaitu titik referensi pengukuran yang digunakan dalam pemetaan skala besar. Sampai saat ini, jumlah Ellipsoid Referensi yang sudah dibuat tidaklah sedikit dan memiliki nilai parameter yang tidak sama. Saat ini WGS 84 di aggap sebagai Ellipsoid Referensi yang terbaik. Dari Ellipsoid referensi yang ada ini, ditentukanlah Datum Geodetik yang akan digunakan untuk melakukan pemetaan.
Datum geodetic adalah pemilihan system koordinat dengan mengadopsi suatu bentuk ellipsoid serta menetapkan posisi dan orientasi ellipsoid terhadap bumi. Datum geodetic merupakan acuan untuk melakukan proyeksi bumi pada suatu daerah tertentu. Maka setiap daerah bisa saja memiliki datum geodetic yang berbeda dengan daerah lain. Dalam sejarah pemetaan Indonesia, telah terjadi beberapa kali perubahan datum geodetic yang digunakan.
Pertama, sejak tahun 1970 hingga 1974 Datum Geodetik menggunakan Ellipsoid Bessel 1851 dan system koordinat relative dan Ellipsoid bermacam-macam. Untuk Jawa – Nusa Tenggara- Sumatera dipakai titik di Gunung Genuk, di sekitar Semarang sebagai titik awal system dan dinamakan Datum Genuk. Di Kalimantan ada 2 datum, yaitu Datum Gunung Raya di Kalimantan Barat dan Datum Serindung di Kalimantan Timur. Untuk Sulawesi dipakai Datum Monconglowe di Sulawesi Selatan. Penggunaan Datum yang terpisah – pisah dikarenakan teknologi pengukuran optic (yang mengukur sudut – sudut antara titik – titik di Bumi dalam suatu jarring Triangulasi) yang tidak memungkinkan pengukuran langsung untuk menghubungkan posisi antara pulau-pulau yang berjauhan.
Kedua, pada tahun 1969 dibentuknya Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dan dimulainya program penyatuan system referensi. Tujuannya adalah membangun system informasi geografis yang integrative di Indonesia. Pada masa ini telah berkembang teknologi penentuan posisi dengan sateli, yaitu Sistem Satelit Doppler dari US Navy Navigation Satellite System (NNSS) dan meninggalkan system triangulasi. Bakosurtanal memilih satu titik triangulasi di Padang sebagai titik awal system dan dinamakan Datum Padang, yang kemudian disebut Datum Indonesia 1974 (Indonesian Datm 1974 atau ID-74). Dalam ID-74 menggunakan ellipsoid Bessel 1841 yang diadopsi secara internasional pada waktu itu, yaitu GRS 1967.
Ketiga, berkembang teknologi satelit GPS sehingga penentuan posisi lebih akurat setiap saat dan tempat. Agar peta sebelumnya tetap bisa digunakan, maka perlu mengubah datum yang digunakan dari ID-74 ke datum yang sesuai dengan system GPS. Datum ini dinamakan Datum Geodesi Nasional (DGN 1995) dengan ellipsoid yang digunakan WGS 1984.
            Tahap selanjutnya setelah menentukan Datum Geodetik adalah menentukan teknik proyeksi yang digunakan. Ada berbagai macam teknik proyeksi yang bisa dibedakan berdasarkan bidang proyeksi, titik singgung, sifat asli yang dipertahankan, serta posisi sumbu proyeksinya.
Sistem UTM dengan system koordinat WGS 84 sering digunakan pada pemetaan wilayah Indonesia. UTM menggunakan silinder yang membungkus ellipsoid dengan kedudukan sumbu silindernya tegak lurus sumbu tegak ellipsoid (sumbu perputaran bumi) sehingga garis singgung ellipsoid dan silinder merupakan garis yang berhimpit dengan garis bujur pada ellipsoid. Pada system proyeksi UTM didefinisikan posisi horizontal dua dimensi (x,y) menggunakan proyeksi silinder, transversal, dan conform yang memotong bumi pada dua meridian standart. Seluruh permukaan bumi dibagi atas 60 bagian yang disebut dengan UTM zone. Setiap zone dibatasi oleh dua meridian sebesar 6° dan memiliki meridian tengah sendiri. Setiap zone UTM memiliki system koordinat sendiri dengan titik nol pada perpotongan antara meridian sentralnya dengan ekuator. Untuk menghindari koordinat negative, meridian tengah diberi nilai awal absis (x) 500.000 meter. Untuk zone yang terletak dibagian selatan ekuator (LS), juga untuk menghindari koordinat negative ekuator diberi nilai awal ordinat (y) 10.000.000 meter. Sedangkan untuk zone yang terletak dibagian utara ekuator, ekuator tetap memiliki nilai ordinat 0 meter. Untuk wilayah Indonesia terbagi atas sembilan zone UTM, dimulai dari meridian 90° BT sampai dengan 144° BT dengan batas pararel (lintang) 11° LS hingga 6° LU. Dengan demikian wilayah Indonesia dimulai dari zone 46 (meridian sentral 93° BT) hingga zone 54 (meridian sentral 141° BT).

Monday, February 15, 2016

Pesan Hari Ini

"Tidak perlu lagi mencari, kalo sudah waktunya pasti  akan dicari.
sekarang waktunya untuk menebar benih.
bukan masalah sakit hati, hanya saja masalah mensyukuri nikmat Illahi Rabbi"
pesan hari ini didapat dari seseorang yang baru dikenali.

This entry was posted in

Sunday, July 5, 2015

Pak Kewut

Ahhh kereta ekonomi... Kereta kelas ekonomi seperti biasa. Setelah kereta datang saya bergegas naik dan mencari tempat duduk saya seperti yang tertera pada tiket yaitu gerbong 3 nomor 11D. Akhirnya sampai juga di nomor 11, di nomor 11E tampak seorang bapak tua sendirian mengenakan baju koko merah dan dihadapannya ada seorang ibu muda dan anak perempuan yang masih kecil. Ah mungkin mereka bertiga keluarga, pikir saya. Setelah tidak sengaja mendengarkan ibu dan bapak tua itu ngobrol ternyata mereka bukan keluarga.
Saya sempat risih dan meremehkan karena duduk dengan orang tua bukan karena apa tapi itulah. 5 menit setelah saya duduk di samping bapak tua itu, ada seorang wanita muda tiba - tiba memberi makanan kepada bapak tua itu sembari mengatakan "ini sedikit makanan untuk buka puasa pak". Saya melihat kearah bapak tua itu dengan heran, bapak tua menjelaskan "ibu itu dokter dan dosen di UGM barusan banyak tanya - tanya tentang agama". Tentang agama? saya semakin penasaran dengan bapak tua satu ini.
seperti percakapan pada kereta sebelum - sebelumnya, bapak tua itu menanyakan kepada saya turun mana, di jogja kuliah? jurusan apa? ngekos? harga kosnya berapa? dll. tidak sopan sepertinya jika saya tidak menanyakan hal serupa tentang bapak tua ini. dan pada akhirnya timbullah percakapan diantara kami.  entah dari pertanyaan saya yang mana, bapak tua itu menjelaskan kalau bapak tua itu semasa muda pernah sekolah di Al-Azar mesir. saya semakin penasaran dengan bapak tua ini bagaimana bisa ke mesir. saya tak sungkan -sungkan menanyakan bagaimana caranya sampai ke mesir? dan subhanallah sekali jawaban dari bapak tua ini, "saya bisa ke mesir karna pertolongan Allah mbak, toh saya anak yatim, gak punya uang, saya sering ke masjid dan tiba- tiba ada orang yang ngajak saya ke mesir". setelah dimesir bapak tua itu dipercaya sebagai ketua rombongan haji, so berarti uda haji berkali - kali bapak tua yang sempat saya remehkan ini.
dalam perjalanan bapak tua ini lah yang banyak bercerita daripada saya. mulai dari agama islam yang mulai terpecah belah, karena banyak paham - paham yang baru yang tidak sesuai dengan ajaran Rasul. cerita tentang banyak suami yang meninggalkan istri (tapi tidak bagitu mengerti karena belum punya suami haha), dan cerita yang paling saya dengarkan adalah tentang mahasiswa yang ngekos ataupun ngontrak dan sering membawa lawan jenis ke kosnya. Wajah bapak ini tampak prihatin melihat kelakuan anak2 seperti itu. "boleh mbak berteman dengan banyak cowok, tapi nanti jodoh sudah ada yang ngatur, jaga kehormatan" nasehat bapak tua itu, yang mungkin sedikit membuat saya berpikir. "mbak sekarang tugasnya cuma belajar, orangtua senang kalo mbak bisa lulus cepat" kata bapak tua itu. disitu saya benar - benar tersinggung dan menangis.
"mbak bisa baca Al-quran ?", tanya bapak tua itu. "bisa pak", jawab saya. "bisa tafsir juga mbak?, tanyak bapak lagi. "belum pak", kata saya. "nah mbak gimana bisa perbaiki akhlak mbak kalo gak paham Al quran? mbak tau sekarang salahnya dimana" kata bapak tua itu. nah itu mungkin sedikit percakapan yang sampai sekarang saya pikirkan. dari sekian banyak nasehat dari pak tua itu bapak tua itu lebih menekankan pada akhlak anak dan tanggung jawab kepada orang tua. mungkin bapak tua itu tahu, kalau saya banyak dosa dari kedua itu :(
pelajaran yang dapat di ambil dari cerita diatas adalah jangan pernah meremehkan orang baik tua maupun muda dan mulailah berkomunikasi dengan orang - orang baru, karena ilmu dan hidayah tidak tahu asal mulanya. sungguh banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari bapak yang mungkin berusia 70an tahun dan belum bisa saya tuliskan semua disini. terima kasih pak haji :)
This entry was posted in

Wednesday, June 10, 2015

GEODESI : Lokasi Alternatif Gedung di Kaki Gunung

        Dalam membangun sebuah bangunan atau membeli rumah seringkali seseorang memiliki banyak pertimbangan, seperti akses jalan keluar masuk kendaraan, tingkat keramaian, jauh dekat dengan pusat perbelanjaan dll. Sering kali kita jumpai di TV beberapa iklan yang menawarkan sebuah apartemen mewah dengan berbagai fasilitas pendukung dan akses keluar masuk untuk apartemen itu sendiri. Seperti akses menuju jalan tol hanya 10 menit, dari pusat perbelanjaan 20 menit, 5 menit untuk menuju sekolah dll.  Kemudahan akses dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk semua orang.
   Kemudian timbullah pertanyaan, bagaimana seorang developer dapat membangun suatu bangunan dengan jarak tertentu dari suatu lokasi tertentu ? seperti halnya akan membangun suatu bangunan dikaki gunung bagaimana cara mencari lokasi alternatif berdirinya bangunan yang aman untuk sebuah bangunan yang berada dikaki gunung ? jawabannya adalah dengan melakukan analisis spasial.
        Sebagai ahli SIG, diminta untuk menentukan lokasi alternatif bangunan “Gedung” untuk keperluan pengamatan gunung, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Gepak dalam suatu lokasi dengan persyaratan lokasi adalah :
  1. Lokasi bangunan tersebut berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
  2. Lokasi bangunan berada paling dekat 17,5 km dari puncak kedua gunung tersebut, dan tidak lebih dari 30 km dari puncak kedua gunung tersebut.
  3. Agar terhindar dari dari getaran dan kebisingan bangunan tersebut harus berada minimal berjarak 2 km dari rek kereta api.
  4. Agar bangunan tersebut mudah diakses, maka letaknya berada di pinggir jalan atau maksimal berjarak 100 m dari jalan yang sudah ada.
  5. Agar terhindar dari bahaya banjir, maka lokasi harus jauh dari sungai atau jaraknya paling dekat 2 km dari sungai.

           Dari ketentuan – ketentuan diatas maka data yang kita butuhkan adalah peta desa wilayah DIY yang dilengkapi lokasi kedua gunung (G. Merapi dan G.Gepak), jalan raya, sungai dan rel kereta api. Analisis spasial dapat dilakukan dengan menggunakan Software ArcMap. 
Untuk mememenuhi syarat yang kedua Lokasi bangunan berada paling dekat 17,5 km dari puncak kedua gunung tersebut, dan tidak lebih dari 30 km dari puncak kedua gunung tersebut. Maka dilakukan buffer dari kedua gunung sebesar 15km dan 30 km.


       Kemudian untuk mememenuhi Agar terhindar dari dari getaran dan kebisingan bangunan tersebut harus berada minimal berjarak 2 km dari rek kereta api. Maka dilakukan buffer dari rel kereta api sebesar 2km.


           Agar bangunan tersebut mudah diakses, maka letaknya berada di pinggir jalan atau maksimal berjarak 100 m dari jalan yang sudah ada. Maka dilakukan buffer dari rel kereta api sebesar 100 m. 


          Agar terhindar dari bahaya banjir, maka lokasi harus jauh dari sungai atau jaraknya paling dekat 2 km dari sungai. Maka dilakukan buffer dari sungai sebesar 2 km.



            Maka dari peta diatas dapat dilihat lokasi – lokasi yang aman untuk pembangunan bangunan pengamatan kedua gunung. Berikut nama – nama desa dan lokasi desa yang merupakan lokasi yang memenuhi persyaratan diatas untuk pembangunan bangunan gedung pengamatan : 





Monday, June 8, 2015

Orienteering

Olah raga merupakan suatu kegiatan yang dapat dilakukan oleh semua kalangan, dari anak – anak, remaja, dewasa hingga tua dan baik pria maupun wanita. Olah raga dapat membuat badan lebih segar, mengurangi strees, memperlancar peredaran darah, hingga mempertahankan daya tahan tubuh. Banyaknya cabang olahraga dapat membuat masyarakat tidak perlu bingung untuk memilih cabang yang cocok untuk dirinya. Mulai dari catur, sepak bola, lari, senam, renang, panjat sampai dengan orienteering.
Orienteering merupakan salah satu  olah raga dimana seorang orienteer ( pelaku orienteering) menggunakan peta dan kompas untuk menemukan titik – titik yang ada di permukaan bumi. Orienteering tidak asing bagi seorang pecinta alam, olahraga ini sangat bermanfaat jika kita berada di hutan dan ingin mengetahui posisi kita berada hanya dengan membaca peta dan kompas.

Gambar 1. Peta Orienteering

Tidak hanya itu, orienteering juga merupakan olahraga yang sering dilombakan. Jalur orienteering terdiri dari start, rangkaian titik, dan finish. Peserta dapat berjalan maupun berlari dengan cepat untuk mencari dan menuju titik tersebut di lapangan. Untuk membuktikan orienteer telah sampai pada titik yang dituju, orienteer menggunakan punch sebagai pelubang kertas untuk menandai bahwa orienteer telah sampai pada titik tersebut, setiap titik memiliki kode punch berbeda – beda. Sehingga paniti dapat membaca orienteer telah berhasil pada titik mana saja.

Tuesday, May 12, 2015

GEODESI : Peta Tematik

Peta Tematik adalah peta yang menyajikan tema tertentu dan untuk kepentingan tertentu. (Badan Informasi Geospasial). Dengan perkembangan teknologi peta dapat diproduksi dengan mengunakan software pendukung, misal arcgis, autocad dll. Berikut hasil peta yang diolah menggunakan arcgis :

Monday, April 13, 2015

GEODESI : Sejarah Peta


Peta merupakan gambaran seluruh atau sebagian permukaan bumi pada bidang datar yang memiliki skala dan sistem proyeksi tertentu. Dengan berkembangnya zaman peta dapat digunakan dalam berbagai bidang, tidak hanya pada bidang perencanaan dan kontruksi namun peta juga dapat dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan.
Sejarah mencatat peta Indonseia pertama adalah peta navigasi pelayaran yang dibuat oleh Laksamana Cheng Ho dari China ketika melakukan pelayaran di Indonesia pada abad ke 15.
Sekitar tahun 1595 dilanjutkan oleh Belanda dengan VOCnya melakukan survei dan pemetaan guna menginventarisasi kekayaan hayati indonesia dan upaya mencari jalur ke daerah rampah - rempaah, karena Indonesia merupakan negeri dengan rempah – rempah yang melimpah.
Untuk meningkatkan SDM dalam pembuata peta, pada tahun 1792 dibentuklah sekolah untuk mendidik tenaga teknik, khususnya surveyor pemetaan.
Tidak hanya peta topografi militer saja yang diproduksi waktu itu, belanda juga membuat peta pelayaran yang berisikan informasi peringatan tanda bahaya untuk navigasi laut.

[peta buatan VOC]
Pada awal abad 20, dari 500 orang yang bekerja di dinas topografi sebagian besar adalah orang Indonesia, yang bertugas untuk membuat peta topografi Indonesia.
Pada tahun 1939 Ferdinand Jan Ormeling dari Belanda menerbitkan Atlas yang merupakan kumpulan peta selama 90 tahun kegiatan Survei dan Pemetaan. Pembuatan Atlas pada saat itu merupakan prestasi yang luar biasa di dunia.
Pembuatan peta daratan dan navigasi pada saat itu hanya ditunjang dengan pengetahuan ilmu falak atau kosmologi dan dengan menggunakan alat sederhana berupa kompas dan theodolit. Theodolit berfungsi untuk mengukur sudut vertikal dan horizontal suatu jarak di muka bumi.


(Sumber : Ikawati, Yuni; Ratih, Dwi : Survei dan Pemetaan Nusantara, Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, 2009